Dipan si mbak

Dipan itu memang kurang pas ukurannya untuk kamar si mbak, … terlalu panjang!
Akibatnya pintu kamar mentok dengan dipan dan hanya bisa dibuka seukuran badan. Keluar masuk kamar jadi tidak leluasa.

Nah kebetulan sabtu siang bapak datang. Jadi mumpung ada waktu senggang, sekalian saja berdua dengan bapak cari cara agar pintu kamar si mbak bisa dibuka selebar-lebarnya, seperti pintu kamar mandi misalnya.

Masalahnya kalau harus ganti model pintu jadi pintu geser … harus keluar biaya, atau kalau dipannya yang harus diganti dengan ukuran yang lebih kecil … juga keluar biaya. Rasanya sedikit sayang kalau harus keluar uang …. *aslinya sih memang ngga ada dana :) )

Tapi bukan bapak namanya kalau harus menyerah begitu saja, maka biar hemat tapi hasil tetap dapat, dipan akan dimodifikasi sendiri … dikurangi panjangnya sedikit saja.

Dan mulailah saya dan bapak bekerja menjadi tukang meubel dadakan.
Siapkan peralatan, gergaji, bor listrik, kunci L, penggaris siku, pensil, palu, obeng, secukupnya.
Angkat dan keluarkan dipan ke tempat yang lebih luas biar leluasa.
Mulai kurangi panjang dipan 10 senti dengan gergaji.
Buat lagi lubang baru untuk baut dipan dengan bor listrik,
Kecilkan sedikit pen kayu penguat,

Dan … pffhhh…. Ternyata susah juga, … butuh waktu lebih dari dua jam untuk begini saja… kirain gampang!

“Oke pak, ayo kita pasang lagi.”
(biar capek tapi senang rasanya bisa berkutat lagi berdua sama bapak, menambah lagi memori bersama antara saya dan bapak, selain jaman kecil dulu, bantu-bantu bapak di hari minggu)

“Yess .. selesai!”
(Capek, keringetan, kelaperan … tapi puas!!!. Dipan si mbak berhasil dimodifikasi sendiri, panjangnya dikurangi 10 senti supaya ngga mentok dengan pintu kamar. Jadi pintu bisa dibuka lebar-lebar)

“Udah pak, ayo kita masukkan lagi ke kamar si mbak”
“Pepetin ke tembok yon, ..”
“iya pak.”
“Udah ? coba dibuka pintunya.”
Dengan perasaan senang bercampur bangga pintu kamar si mbak coba saya buka,
Dan … “yaaaaaahhhhh ….”
“Kenapa yon?”

“Masih mentok pak!”

“Apadaya, setelah dua jam lebih gergaji sana gergaji sini, bor sana bor sini, dipan si mbak masih kelebihan setengah senti .. yaa setengah senti lagi!
Tapi tak apa-apa, dua jam tadi benar-benar nikmat rasanya. Bisa bersama bapak yang tak pernah menyerah begitu saja! “

31 Comments »




Leave a Reply

CommentLuv Enabled