Jarum jam sebentar lagi menunjuk angka 6 di sore hari. Sementara dibalik kaca ruang tamu, … halaman rumah samar saja kelihatan, …. gelap, disahut geledek yang sesekali memecah gemuruh hujan.
“Sudah ngga usah ngaji dulu, hujannya gede gitu!” … “Iya, besok lagi kan juga bisa!”, teriak emak ditimpali bapak pada seorang anak laki, remaja tanggung belasan tahun.
“Nggak, saya mau berangkat pake payung! .. Assalamu’alaikum!”
Dan tangan kiri mengusung payung tangan kanan menjinjing sarung, berjalan selangkah-selangkah tapi pasti menuju Musholla tempat mengaji.
Duhai remaja tanggung belasan tahun , malam ini tetap mengaji, malam ini ingin bertemu pujaan hati.
(*20 tahun kemudian)
“sebetulnya masalahnya motivasinya yang kurang pak. Kalau motivasi dia kuat, pasti bisa. Asal ada kemauan aja sih”, asal ngoceh sok menggurui.
“Ya, contohnya seperti waktu dulu, dilarang bagaimanapun kalau sudah punya kemauan kuat, hujan besar tetep berangkat, padahal sudah dibilangin ngga usah ngaji dulu, diluar hujan,… gelap!”, sahut bapak bangga dan mantap.
eh? Maksudnya pak?
… “Duhai remaja tanggung belasan tahun, emak bapak hanya melihat engkau berangkat mengaji di tengah hujan dan geledek bersahutan “…
*dengan sepenuh maaf!
